Permainan di kampung kami yang populer tentu saja sepak bola. Sebenarnya ada satu lagi cabang olahraga yang cukup sering kami mainkan yakni badminton. Tetapi agak susah untuk melakukan hal ini. Lapangan badminton di seputaran rumah kami cuma satu buah, sehingga kalau ingin bermain harus bergilir berdasarkan siapa yang duluan datang ke lapangan.
Permainan berlangsung kadang hari minggu pagi, kadang dari sore hingga malam. Belum lagi mesti punya raket dan beberapa biji kok. Pemain di lapangan badminton maksimal empat orang bermain ganda. Keriuhannya kalah oleh sepak bola yang sangat membumi di kampung kami. Setahu saya, semua anak sepantaran saya kala itu di kampung menyukai sepak bola, kalau enggan bermain di lapangan, menonton pun tak jadi soal. Biasanya hal seperti ini berlangsung ketika pulang sekolah, modal bermain bola cuma satu yakni bola. Itu pun tak mesti bola yang terbuat dari karet yang oleh kami disebut bola Bleter, saya sendiri tak mengerti kenapa
itu bola disebut bola bleter. Tetapi tak jarang kami melakukannya dengan bola plastik. Ya, bola yang terbuat dari plastik.
Di pasar kami membelinya, agak jauh, beberapa kilometer dari tempat tinggal kami, sebenarnya di warung kampung kami ada yang menjualnya tapi harganya lebih mahal dan pilihan warna yang terbatas. Membelinya dengan cara patungan. Masing masing dari kami mengumpulkan uang semampunya.
Tak ada patokan besaran atau kecilnya. Seikhlasnya saja dan tanpa paksaan, toh agama pun tak ada paksaan dari Tuhan, mau beragama silahkan, tak beragama pun tanggung jawab masing masing. Apalagi ini hanya soal membeli bola. Kalau bola sudah dipunya, tinggal lah kami mencari lapangan yang bisa dipakai bermain bola. Bukan lapangan sepak bola standar FIFA atau PSSI yang kami cari, cukup lah sebidang tanah yang agak luas, entah itu pelataran rumah atau kebun kosong yang tidak ditanami apa apa. Ambil bola, bikin gawang dari bambu, lalu tendang lah bola ke arah lawan. Tanpa sepatu yang melekat di kaki alias nyeker alias telanjang kaki alias tak pakai apa apa hanya bermodal kekuatan kaki untuk menahan gempuran dari kaki lawan. Semuanya gembira, semuanya riang,
tak ada keengganan bermain bola hanya karena tak bersepatu.
Sebenar nya banyak tumbuh klub sepak bola anak anak yang tersebar disudut sudut kampung kami dan memiliki talenta talenta muda berbakat, tapi tak ada klub bola resmi yang dilembagakan di kampung kami. Sehingga tak ada bendera, kostum, dan penanda lainnya. Kalau pun harus bermain resmi mungkin hanya waktu tujuh belasan, setelah selesai upacara bendera biasa nya panitia menggelar pertandingan yang mempertemukan antara sekolah SD dan MI karena waktu itu cuma ada dua lembaga sekolah tingkat dasar di kampung kami, pertandingan tahunan sarat gengsi yang menampilkan bintang bintang lapangan dari sekolah masing masing.
Bermain bola sehari hari yang biasanya kami lakukan setelah sepulang sekolah kemudian di seling dengan acara ngebak atau mandi di kali kemudian dilanjutkan kembali leg kedua setelah Ashar, dan kumandang azan magrib lah sebagai pluit panjang penanda berakhir nya pertandingan. Semua pemain bebas memakai kaos apapun. Kaos olahraga sekolah, kaos oblong, kaos kutang (dalam), atau bahkan tak memakai kaos pun, yang jelas pasti lah mengenakan celana. Kalau salah satu pihak kemasukan gol terlebih dahulu, terkadang ada kesepakatan tidak tertulis yang kalah lebih dahulu harus membuka kaosnya sehingga kelihatan mana yang
sudah memasukkan gol dan mana yang belum dan semuanya berlaku sportif.
Tentu tidak hanya di kampung sendiri kami bermain bola. Kalau ada pertandingan atau Cup Cup an kami
juga ikut daftar walau dengan kualitas pemain yang pas pas an. Hasilnya sudah bisa ditebak, kami sering tersungkur kalah di babak babak penyisihan
ketimbang melanjutkan ke babak semi final dan apalagi final, jauh tanah ke langit. Sebetulnya kami ikut bertanding hanya sebagai penggembira saja, kalah tidak apa apa, menang tentunya alhamdulillah. Ya, bagaimana mau menang kalau latihan intensif nya hanya beberapa kali sebelum pertandingan diadakan itupun tanpa pelatih. Jarang ada kekecewaan, mungkin ada. Semua sudah maklum dengan hal itu, hadapilah dengan senyuman kata kami.
Selain ikut bertanding resmi, kami juga cukup sering bertanding dengan kampung kampung yang jaraknya
cukup jauh dengan rumah kami dalam rangka mempererat persahabatan. Kami
menyebutnya sebagai nyorog. Dari beberapa kali nyorog, hasilnya sering kalah, tapi terkadang juga membawa pulang kemenangan, tetapi itu tak penting, silaturahmi antar kampung lah yang kami utamakan.
Pernah dalam salah satu kali nyorog ke sebuah kampung, kami persiapkan dengan serius, latihan intensif dan membekali diri dengan teknik gocekan dan tiki taka yang atraktif untuk
bermain bola yang canggih. Nah, sebelum berangkat, ada satu orang tua yang sangat perhatian terhadap perkembangan olahraga di kampung kami memberikan air yang sudah diberikan jampi jampi. Kami semua,
pemain utama dan juga cadangan diminta untuk meminum air tersebut agar katanya nanti ketika bertanding kami tidak akan merasa kelelahan dan juga kehausan dan diberikan kemenangan. Semua menurutinya. Hasilnya? Kami tetap kalah.
Bertahun tahun kemudian kami jarang lagi bermain bola bersama. Kini
semuanya sudah sibuk dengan urusan masing masing. Kebun kosong yang dulu pernah dipakai bermain bola
kini sudah berdiri perumahan, sementara tanah pelataran kepunyaan tetangga kini tumbuh rumah rumah baru dan tak bisa di gunakan untuk bermain bola. Semuanya tinggal kenangan. Hanya nostalgia yang masih tertanam dalam ingatan tentang kebersamaan dan semangat kami.
Tularkan lah kebersamaan dan semangat itu pada anak anak kita kawan. Berikan motipasi pada mereka untuk ber prestasi untuk mewujudkan impian kita untuk menjadi bintang lapangan kampung
Jumat, 29 Mei 2015
BINTANG LAPANGAN KAMPUNG
Label:
faiyoioi.blogspot.com
Lokasi:Bekasi
Gunung Putri, Gunung Putri
Langganan:
Postingan (Atom)